Pada abad 21 terjadi perubahan strategi pengajaran yang dilakukan oleh guru
dari cara yang tradisional kini mengarah pada pendekatan digital yang dirasa
lebih relevan dalam memenuhi kebutuhan siswa. Akan tetapi proses transisi
dari lingkungan kelas yang menerapkan
cara tradisional
ke cara digital
sangat bervariasi tergantung pada
cara guru dan sekolah yang bersangkutan dalam merespon dan menyikapinya. Prensky
mendeskripsikan guru sebagai variabel proses hasil adopsi dan adaptasi teknologi yang bergerak, baik secara cepat atau lambat. Ada empat fase proses adopsi dan adaptasi guru dalam pemebelajaran abad
21 diantaranya: (1) berkecimpung (dabbling),(2) melakukan hal-hal lama dengan cara lama (old things in old ways), (3) melakukan
hal-hal lama dengan cara-cara baru (old
things in new ways) dan (4) melakukan hal-hal baru dengan cara-cara baru (doing new things in new ways) (Smaldino, S. E., dkk, 2015: 12).
Proses ini dimulai dari tahap 1 yaitu
berkecimpung dengan teknologi yaitu dengan cara menambahkan teknologi ke beberapa situasi
belajar secara acak. Pada fase 2, teknologi digunakan untuk melakukan hal-hal
lama dengan cara lama seperti ketika guru menampilkan catatan belajar di
PowerPoint dari pada menggunakan OHP (tranparancy overhead). Fase 3 melakukan
hal-hal lama dengan cara baru dimana teknologi mulai digunakan, seperti ketika guru
menggunakan model 3D Virtual untuk mendemonstrasikan struktur sebuah senyawa.
Contoh lain ketika siswa menggunakan aplikasi pengolah kata dan clip art daripada menggunakan kertas notebook dan menggambar langsung untuk
membuat cerita pendek. Tahap Akhir (4), melakukan hal-hal baru dengan cara-cara
baru yang sepenuhnya memanfaatkan kekuatan teknologi dan media. Hal ini mengharuskan
siswa berorientasi ke masa depan guna mengembangkan keterampilan
mereka dalam pemrograman, penyaringan pengetahuan, menggunakan konektivitas
dengan teknologi canggih, dan penyediaan miniature yang dapat dikustomisasi satu per satu.
Selengkapnya dapat diunduh DI SINI






0 komentar:
Posting Komentar